Indonesia Harus Memperkuat Industri Sektor Baja dalam Negeri

Indonesia Harus Memperkuat Industri Sektor Baja dalam Negeri

Industri baja Tanah Air masih galau. Banyaknya proyek infrastruktur pemerintah tak signifikan meresap pasar baja lokal. Industri baja Tanah Air masih galau. Banyaknya proyek infrastruktur pemerintah tak signifikan meresap pasar baja lokal.

Purwono Widodo, Ketua Cluster Flat Product Asosiasi Besi dan Baja Indonesia, mengatakan, perlu ada perbaikan dari pemangku kepentingan supaya bisa mensupport peningkatan konsumsi atau pengaplikasian baja yang lebih besar lagi. Dibanding negara tetangga, pengaplikasian baja di Indonesia masih rendah. “Konsumsi per kapita Indonesia masih 50 kg per kapita, jauh dari negara ASEAN lain,” ujar Purwono, Pekan (8/4).

Lihat Juga: harga besi beton

Di tengah minimnya absorpsi pasar hal yang demikian, industri baja dibayang-bayangi tingginya produk impor baja dengan harga lebih murah sebab praktik perdagangan yang curang (unfair trade).

Pengaplikasian Standar Nasional Indonesia (SNI) masih longgar, sehingga menimbulkan pedagang baja bandel. “Produsen yang memproduksi barang standar semestinya berkompetisi dengan baja-baja tak terstandar,” kata Purwono.

Pemerintah memang tidak tinggal membisu dan telah mengeluarkan Hukum Menteri Keuangan No.27/PMK.010/2018 perihal Pengenaan Bea Masuk Antidumping kepada Impor Produk Steel Wire Rod dari Tiongkok. Besaran bea masuk antidumping antara 10,2%–13,5%. Tata itu diundangkan 3 April 2018 dan berlaku 14 hari semenjak tanggal diundangkan. Artinya berlaku pada 17 April 2018.

Dari sisi peraturan, upaya melindungi produksi baja lokal telah cukup memadai. Cuma, kontrol atau penegakan undang-undang masih perlu ditingkatkan. Di sisi lain, sebagian perusahaan berusaha meningkatkan kapasitas produksi. PT Gunung Steel Group contohnya. Perusahaan ini yang bakal menyegerakan pengoperasian fasilitas peleburan biji besi (blast furnace).

Kodrat Setiawan, Customer Relations PT Gunung Garuda yang ialah Gunung Steel Group mengatakan, pihaknya menggandeng kontraktor asal Jerman, SMS Siemag membangun blast furnace di rumit industri Gunung Steel Group di Cikarang. “Tahun depan blast furnace semestinya jalan,” ujarnya.

Kapasitas produksi blast furnace hal yang demikian 700.000 ton per tahun, bisa dikembangkan sampai 1,2 juta ton per tahun. Perusahan ini nanti akan akan produksi slab sendiri.

Sementara, Handaja Susanto, Direktur Utama PT Saranacentral Bajatama Tbk mengatakan, pihaknya optimistis industri baja Indonesia masih bisa berkembang.

 

Lihat Juga: wire mesh

Leave us a Message