Desa Jepang yang Dihuni Orang Sawah

Di Shikoku, satu dari empat pulau utama Jepang yang terkecil dan paling jarang dikunjungi, seorang perempuan punya solusi mengagetkan akan sebuah keadaan sulit lazim.

Aku menjelajahi sentra Shikoku, tetapi kuatir menerapkan kendaraan beroda empat sewaan di jalan satu lajur lewat jurang-jurang pegunungan menuju jembatan kayu.

Aku lewat desa yang tampaknya tak dihuni dan sebagian rumah yang menonjol berada dalam posisi bahaya di atas tonggak-tonggak besi di atas sungai, berbelok, dan memperhatikan ada tiga sosok di kejauhan yang bersandar di tiang listrik.

Mereka menerapkan sepatu boots dari karet, mengenakan celana dan baju hangat petani dari bahan kasar, dan mengenakan sarung tangan putih di tangannya.

Mereka juga mengenakan topi baseball, tetapi ada yang aneh dari perawakan mereka. Mereka tidak menonjol seperti manusia. Dan ketika aku kian dekat, aku tahu bahwa mereka bukan manusia.

Wajah mereka terbuat dari kain putih, tembam dan seperti bantal, mata mereka dari kancing dan alis mereka dari benang hitam.

Lima meter kemudian, aku memperhatikan sosok berukuran manusia ini mendukung gerobak di ladang, dan satu lagi, yang sedang mencabut rumput, dan ada lima sosok lain yang duduk di tempat duduk di perhentian bis.

Aku sedang bertanya-tanya dunia pilihan apa yang aku masuki ini dikala aku memperhatikan sosok lain di ujung jalan.

Yang ini juga menonjol hidup, mengenakan sepatu kets hitam, celana panjang dan pakaian terusan abu-abu, tangannya juga mengenakan sarung tangan dan kepalanya tersembunyi di bawah topi.

Aku kembali memperhatikan ke arah jalan tetapi kemudian stop. Sosok itu berjalan satu langkah! Lalu, mengambil satu langkah lagi!

Aku stop dan berjalan menuju sosok bertopi itu, tidak terlalu yakin akan sosok yang aku temui.

“Permisi!” aku berseru. Sosok itu tampaknya tidak mendengar. “Permisi!” aku berteriak lebih keras.

Wajah manusia itu bahkan timbul hangat, warna kulitnya seperti manusia, dengan garis-garis halus, dan mata yang kecil, tajam dan berkilau. “Ya?” ia menjawab dengan bahasa Jepang.

 

Aku berjalan maju dan membuka lengan aku ke sosok-sosok di kedua sisi jalan. “Tahukah Anda siapa yang menghasilkan makhluk-makhluk luar awam ini?”

Ia memperhatikan tajam ke arah aku untuk sebagian waktu, lalu tersenyum.

Itulah kisah pertemuan aku dengan Ayano Tsukimi, maestro orang-orangan sawah di Shikoku.

Dikala itu tahun 2013 dan aku sedang berupaya menembus lipatan hijau di Jurang Iya, sebuah tempat terpencil di timur laut pulau itu, di mana jalan beton baru diperkenalkan sekitar lima puluh tahun lalu.

Istri aku lahir dan dibesarkan di Shikoku. Aku telah mendengar soal Jurang Iya dari saudara ipar aku, yang mengatakan wilayah itu masih orisinil dan penuh dengan gubuk beratap jerami, ladang gandum, jembatan kayu dan gaya hidup tradisional tetapi ia tak menyebut apa saja soal sosok orang-orangan sawah.

Kami berjalan lewat dua si kecil laki-laki kecil hakekatnya, dua sosok mirip si kecil laki-laki yang bermain di sepeda yang berkarat, dan seorang perempuan yang duduk di sebuah gubuk dengan kepalanya memunggungi jalan.

Ayano-san mengajak aku berjalan menuju rumahnya yang simpel. Di jalanan dekat pintu masuk rumahnya, ada sebagian sosok orang-orangan sawah lain: seorang gadis dengan seragam sekolah; ibu dengan bayi di pangkuannya; seorang pria tua dengan setelan jas mengendalikan rokok.

Aku melepas sepatu dan masuk ke ruang beralaskan tatami yang kian penuh dengan karya-karyanya, termasuk pasangan yang mengenakan kimono pernikahan tradisional.

 

 

solusibaja.co.id

 

 

 

Leave us a Message